Postingan

Menampilkan postingan dengan label Keamanan
ARTIKEL TERBARU

VPS Pertama: Setup Ubuntu dan Hardening SSH dari Nol

Kenapa VPS baru tidak boleh langsung dipakai VPS yang baru aktif biasanya datang dengan login root dan password. Kombinasi ini adalah target paling empuk di internet: bot pemindai port 22 bekerja 24 jam mencoba ribuan password umum. Anda mungkin tidak sadar server Anda sedang dicoba ditembus terus-menerus, karena percobaan itu tidak pernah berhenti. Hardening di sini bukan soal paranoia. Ini empat langkah dasar yang sekali jalan, berlaku seterusnya: ganti root dengan user biasa, matikan login password, tutup port yang tidak perlu, dan blokir otomatis IP yang nekat menebak-nebak. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 15 menit. Satu aturan emas sebelum mulai: jangan tutup sesi SSH yang sedang aktif sampai Anda berhasil login lewat cara baru di terminal kedua. Kalau ada yang salah ketik, sesi lama itu jalan keluar Anda. Langkah 0: Perbarui sistem Login pertama sebagai root, lalu perbarui daftar paket dan paket yang terpasang: apt update && apt upgrade -y Perintah ini memasti...
M. Revan Apriyandi
ARTIKEL TERBARU

Audit Keamanan VPS: Periksa Port, User, dan Update Otomatis

VPS yang baru dibeli biasanya langsung dipakai deploy aplikasi, lalu dilupakan. Padahal dalam hitungan jam, alamat IP VPS sudah mulai dipindai bot dari seluruh dunia. Mereka tidak menargetkan Anda secara khusus — mereka memindai semua orang, mencari port terbuka, password lemah, dan paket yang belum di-patch. Audit berkala adalah cara termurah untuk menutup celah itu. Anda tidak butuh tool mahal. Tiga pemeriksaan di bawah ini cukup dilakukan sebulan sekali, dan semuanya bisa selesai dalam 15 menit. 1. Periksa port yang terbuka Port yang terbuka adalah pintu masuk. Setiap port yang listen berarti ada layanan yang bisa diajak bicara dari luar. Prinsipnya sederhana: kalau tidak dipakai, tutup. Lihat dulu apa saja yang sedang listen di server Anda: sudo ss -tulpn Outputnya menunjukkan protokol (TCP/UDP), alamat, port, dan proses pemiliknya. Yang perlu diperhatikan: Port yang listen di 0.0.0.0 atau * berarti bisa diakses dari internet. Wajar untuk 80 (HTTP) dan 443 (HTTPS) kalau se...
M. Revan Apriyandi
ARTIKEL TERBARU

Backup VPS Otomatis dan Terenkripsi ke Google Drive

Kenapa cara ini Backup yang tidak terenkripsi itu titipan data mentah ke pihak ketiga. Kalau akun Google Drive bocor, siapa pun bisa membaca dump database dan file konfigurasi server. Di sisi lain, backup yang tidak pernah diuji restorenya sama saja dengan tidak punya backup — banyak orang baru tahu arsipnya korup pada hari servernya mati. Pola yang saya pakai: rclone mengunggah ke Google Drive lewat remote crypt , jadi file yang sampai di Drive sudah terenkripsi. Penjadwalan memakai systemd timer, bukan cron, karena timer punya log yang bisa dibaca dengan journalctl dan bisa diuji manual tanpa menunggu jadwal. Terakhir, setiap backup diuji restore ke direktori sementara — bukan ke lokasi asli. Yang dibutuhkan VPS Ubuntu 24.04 dengan akses root atau sudo. Akun Google dengan ruang Drive yang cukup. Dua hal yang wajib disimpan di luar server: password enkripsi rclone dan konfigurasi rclone. Kalau server hilang dan dua hal ini ikut hilang, backup terenkripsi tidak bisa dibuka lagi. ...
M. Revan Apriyandi
ARTIKEL TERBARU

WireGuard: Bangun VPN Pribadi di VPS

Kenapa VPN sendiri, bukan VPN gratisan? WiFi publik itu nyaman tapi rawan: siapa pun yang satu jaringan berpotensi mengintip trafik yang tidak terenkripsi. VPN gratisan memang menyelesaikan satu masalah, tapi sering menimbulkan masalah lain — ada yang mencatat log, menyuntikkan iklan, atau membatasi kecepatan sampai tidak bisa dipakai. VPN pribadi di VPS sendiri menyelesaikan ketiganya: Anda yang memegang servernya, tidak ada pihak ketiga yang mencatat, dan kecepatannya hanya dibatasi oleh spesifikasi VPS dan koneksi internet Anda. WireGuard adalah pilihan yang masuk akal untuk ini: kodenya kecil, konfigurasinya satu file per perangkat, dan performanya jauh lebih ringan dibanding OpenVPN di VPS spek kecil. Biaya tambahannya praktis nol kalau Anda sudah punya VPS yang menganggur. Satu VPS 1 vCPU dan 1 GB RAM sanggup melayani beberapa perangkat sekaligus untuk pemakaian harian. Yang dibutuhkan VPS dengan Ubuntu 24.04 dan akses root atau sudo. Port UDP 51820 yang bisa dibuka di firew...
M. Revan Apriyandi
ARTIKEL TERBARU

Vaultwarden Self-Host: Password Manager Pribadi di VPS

Kenapa Vaultwarden, Bukan Sekadar File Catatan Menyimpan password di catatan HP atau spreadsheet adalah cara tercepat kehilangan akun. Sekali HP hilang atau file bocor, semua akun ikut terancam. Password manager menyelesaikan ini dengan satu master password yang mengunci brankas terenkripsi. Bitwarden resmi memang bisa di-self-host, tapi kebutuhan sumber dayanya besar untuk VPS kecil. Vaultwarden adalah implementasi ulang server Bitwarden yang kompatibel dengan aplikasi dan ekstensi Bitwarden resmi, tapi cukup berjalan dengan RAM ratusan MB. Praktisnya: Anda tetap memakai aplikasi Bitwarden di HP dan browser, hanya saja servernya milik Anda sendiri. Satu hal yang wajib dipahami sejak awal: Vaultwarden menyimpan brankas terenkripsi, tapi keamanan tetap bergantung pada Anda. Master password yang lemah atau hilang berarti brankas tidak bisa dibuka siapa pun, termasuk Anda. Tidak ada tombol "lupa password" di server sendiri. Persiapan Yang dibutuhkan: VPS Ubuntu 24.04 denga...
M. Revan Apriyandi